Rajawali Global Service

Uji Migrasi Logam Berat pada Mainan: Apa yang Diperiksa Lab?

Orang tua sering memilih mainan berdasarkan warna cerah dan desain lucu. Padahal, warna cerah itu justru bisa menyimpan risiko. Dalam hal ini, produsen cat dan pewarna plastik terkadang menambahkan logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan kromium (Cr). Mereka menggunakan logam ini untuk menghasilkan warna yang tahan lama.

Ketika dimainkan, logam-logam ini bisa berpindah atau “bermigrasi” dari permukaan mainan ke tubuh anak. Perpindahan ini terjadi saat anak menggigit, menjilat, atau memegang mainan dalam waktu lama. Karena itu, laboratorium menjalankan uji migrasi logam berat pada mainan. Uji ini memastikan kadar zat berbahaya tetap berada di bawah ambang batas aman.

Artikel ini mengulas proses pengujian tersebut, parameter yang lab periksa, serta standar yang menjadi acuan di Indonesia.

Mengapa Uji Migrasi Logam Berat Penting?

Anak-anak berusia balita cenderung memasukkan mainan ke dalam mulut. Mereka melakukan ini sebagai bagian dari eksplorasi sensorik. Kebiasaan ini membuka jalur paparan langsung terhadap zat kimia yang menempel pada permukaan mainan.

Paparan logam berat secara berulang bisa mengganggu perkembangan saraf anak. Paparan ini juga bisa menurunkan fungsi kognitif dan merusak organ tubuh dalam jangka panjang.

Untuk merespons resiko ini, Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan tegas. Sejak 2014, pemerintah mewajibkan produsen dan importir memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) mainan anak. SNI ini mengatur migrasi unsur kimia berbahaya sebagai salah satu aspek penting, seperti Sucofindo jelaskan dalam artikel tentang standar SNI mainan anak.

Standar yang Menjadi Acuan Lab

Mengenai standar yang digunakan, Lab menguji migrasi logam berat pada mainan dengan mengacu pada SNI ISO 8124-3:2010. Standar ini mengulas Keamanan Mainan – Migrasi Unsur Tertentu. Standar ini juga mengatur batas maksimum untuk delapan unsur kimia. Kedelapan unsur itu meliputi antimon, arsenik, barium, kadmium, kromium, timbal, merkuri, dan selenium.

Selain SNI, lab juga sering merujuk pada standar internasional seperti EN 71-3 (Eropa) dan ASTM F963 (Amerika Serikat). Lab menggunakan kedua standar ini ketika produsen menargetkan produk untuk pasar ekspor. Ketiga standar ini memiliki prinsip pengujian yang serupa. Meski begitu, batas migrasi dan kategori bahan mainannya bisa berbeda.

Tahapan Pengujian di Laboratorium

Lab menjalankan pengujian migrasi logam berat melalui beberapa tahap berikut.

1. Persiapan Sampel

Teknisi lab mengambil bagian mainan yang paling mungkin bersentuhan dengan mulut atau kulit anak. Bagian ini biasanya berupa cat permukaan, plastik, atau tekstil. Teknisi lalu menghancurkan sampel hingga berukuran kecil. Langkah ini membuat proses ekstraksi berjalan optimal.

2. Ekstraksi dengan Simulan

Lab merendam sampel dalam larutan asam yang menyerupai cairan lambung manusia. Proses ini meniru kondisi saat anak menelan atau menjilat mainan. Logam berat di dalam material pun larut ke dalam cairan simulan tersebut.

3. Analisis dengan ICP-OES

Setelah ekstraksi selesai, teknisi menganalisis larutan menggunakan instrumen ICP-OES (Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectrometry). Alat ini mengukur konsentrasi setiap unsur logam dengan akurasi dan presisi tinggi. Alat ini bahkan mampu mendeteksi kadar logam yang sangat kecil.

Jurnal Ilmiah Teknik Kimia mempublikasikan sebuah studi tentang alasan pemilihan ICP-OES. Studi ini menjelaskan bahwa metode ini memiliki batas deteksi rendah untuk hampir seluruh unsur logam.

4. Perbandingan dengan Ambang Batas

Setelah mendapatkan hasil pengukuran, lab membandingkan konsentrasi setiap unsur dengan batas maksimum SNI ISO 8124-3. Mainan lolos uji apabila seluruh kadar logam berat berada di bawah ambang batas yang berlaku.

Delapan Unsur yang Diperiksa Lab

Terkait dengan uji migrasi pada mainan, Lab memeriksa delapan unsur logam sebagai berikut:

  • Timbal (Pb) — memicu gangguan saraf dan perkembangan otak anak
  • Kadmium (Cd) — bersifat karsinogenik dan merusak ginjal
  • Merkuri (Hg) — mengganggu sistem saraf pusat
  • Arsenik (As) — meracuni hampir seluruh organ tubuh
  • Kromium (Cr) — memicu reaksi alergi dan iritasi kulit
  • Antimon (Sb) — menyebabkan gangguan pencernaan pada paparan tinggi
  • Barium (Ba) — mengganggu fungsi otot dan jantung
  • Selenium (Se) — membahayakan tubuh pada kadar berlebih, meski tubuh membutuhkannya dalam jumlah kecil

Jenis Mainan yang Wajib Diuji

Lab menguji hampir seluruh kategori mainan anak. Kategori ini mencakup mainan plastik, boneka, dan mainan kayu berlapis cat. Kategori ini juga mencakup cat jari (finger paint), krayon, slime, dan aksesori mainan berbahan logam.

Regulasi SNI mainan sejak 2014 mewajibkan produsen maupun importir menjalankan pengujian ini. Mereka wajib melakukannya sebelum mainan beredar di pasar Indonesia.

Cara Memilih Laboratorium Uji yang Tepat

Orang tua dan pelaku usaha sebaiknya memilih laboratorium yang mengantongi akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Akreditasi ini menjamin kredibilitas hasil uji migrasi logam berat serta pengakuan resminya.

Rajawali Lab menawarkan jasa uji mainan anak sesuai SNI. Layanan ini mencakup pengujian fisik/mekanik, flammability, kimia (termasuk migrasi logam berat), dan elektrikal. Produsen pun bisa memenuhi seluruh persyaratan sertifikasi dalam satu layanan terpadu.

Kesimpulan

Uji migrasi logam berat melindungi anak-anak dari paparan zat kimia berbahaya. Zat ini kerap tersembunyi di balik warna cerah dan desain menarik pada mainan. Lab menjalankan pengujian ini secara sistematis, mulai dari ekstraksi sampel hingga analisis dengan ICP-OES. Tahapan ini memastikan setiap mainan memenuhi ambang batas aman sesuai SNI ISO 8124-3.

Produsen, importir, dan orang tua bisa mengandalkan hasil uji dari laboratorium terakreditasi. Hasil uji ini menjadi jaminan keamanan produk sebelum mainan sampai ke tangan anak-anak.

Kunjungi Rajawali Lab untuk berkonsultasi lebih lanjut mengenai layanan pengujian mainan anak sesuai standar SNI.